Allah mengerti hatimu lebih dr yg kau ketahui, Dia menjangkau pikiranmu lebih dr yg kau bayangkan, dan Dia merancang kebahagiaanmu lebih dr rancanganmu, jadi kerjakanlah bagianmu dgn tekun & tetaplah setia kepadaNya, krn rencana Allah bagi hidupmu akan selalu indah pada waktunya, maka tanamkanlah kesabaran dalam dirimu…
Dua kali saya meniti jalan untuk menuju pernikahan, dan dua kali itu pula langkah saya terhenti karena penikahan seharusnya di jalani oleh dua orang, sedangkan saya sekarang berdiri sendiri di tengah badai hati. Dulu saya anggap kalo saya dikutuk dan sekarang saya anggap saya sangat bodoh plus idiot kalo saya sampai merasa saya dikutuk cuma coz saya gagal menikah saya laki-laki yang saya sayangi. Sejak Allah SWT meniupkan ruh ke raga kita pada saat kita masih dalam kandungan bunda, saat itulah siapa jodoh kita, berapa lama kita hidup di bumi ini, dan seberapa besar rezeki yg pantas kita dapatkan sudah ditentukan. Tentu saja semua itu ada kemungkinan berubah dengan pengajuan doa yang sungguh luar biasa, tapi kembali lagi kalo itu semua adalah hak prerogative mutlak Allah SWT.
Dulu saya pasti tenggelam dalam kesedihan luar biasa bila semua rencana pernikahan yang sudah di depan mata, tiba-tiba kolaps, runtuh tepat dihadapan, melihat dengan mata kepala sendiri bahwa semua harap dan mimpi gugur satu demi satu lalu harus memilih apa yang harus di rasakan. Sekarang yang paling ajaib dan saya sendiri tidak pernah bisa menemukan jawab “kenapa bisa?” adalah saya tidak bisa merasakan apapun, mungkin kosong, mungkin hampa, tapi saya tidak menangis, tidak merasa hancur dan sangat gagal dalam usaha saya untuk larut dalam kesedihan.
Dulu bila sampai berpisah, saya akan menganggap itu adalah akhir dunia saya, tapi lucunya besoknya setelah saya merasa begitu, saya masih tetap hidup dengan baik seperti biasa. Sekarang perpisahan ini bisa berarti dua hal: 1. Kami dipisahkan untuk disatukan lagi nantinya ato malah, 2. Dipisahkan untuk tidak pernah lagi dipertemukan sampai habis umur kami. Dan sekarang saya bisa menerima 2 kemungkinan itu sekaligus. Mungkin karena saya berserah penuh semua kepada Allah Yang Maha Tau bagaimana saya 5, 10 bahkan 70 tahun yang akan datang. Karena pernikahan bukan tentang foto-foto pre wedding, kebaya model apa yang akan dipakai, warna apa yang akan memenuhi nuansa resepsi, makanan dari catering mana, berapa budget cadangan yang harus disiapkan untuk pengeluaran tak terduga, bukan dimana mau honeymoon, tapi dimana akan menetap setelah honeymoon, bekerja ato menjadi ibu rumah tangga penuh untuk bisa berbakti sama suami dan merawat anak-anak, dan bagaimana kita menghabisakan seluruh, ya SELURUH sisa umur kita bersama pasangan kita dengan kasih, sabar, pengorbanan dan ikhlas bukan dengan ego dan emosi.
Sekarang setelah saya memutuskan untuk berjilbab, menjalani hubungan dengan aa tiba-tiba menjadi ketakutan saya tersendiri karena si aa yang kurang bisa menerima kalo saya pada akhirnya berjilbab, sementara saya berjilbab ato tidak itu sepenuhnya hanya karena Allah SWT semata, bukan karena paksaan dari siapapun. Sekarang setelah tau status si aa yang sudah pernah menikah, yang justru sama sekali tidak bisa diterima oleh mama saya (meskipun saya tidak pernah peduli dengan status penikahan orang yang akan menikah dengan saya nantinya. Mau duda ato single, cuma Allah SWT yang paling tau siapa yang terbaik untuk saya)…..yaa jalan menuju pernikahan mungkin harus terhenti disini, entah sementara ato untuk selamanya. Bisa semua ini adalah jalan untuk lebih mendewasakan saya dan aa, karena kedewasaan tidak pernah berbanding lurus dengan angka yang dimaksudkan menunjukkan umur kita, mungkin supaya kami lebih bisa menerima semua kekurangan pasangan kita untuk melengkapi diri kita yang tidak pernah sempurna ini ato justru semua ini untuk menyiapkan saya untuk cinta baru yang lebih baik lagi entah dari siapapun orangnya nanti. Wa’allahualam.








